.

Minggu, 15 Januari 2012

Pesawat Rakitan Siswa SMK 29 Jakarta Bisa Terbang ke Malaysia

Prestasi membanggakan kembali diukir para pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di DKI Jakarta. Kali ini, para pelajar SMK 29 Jakarta atau dulu lebih dikenal dengan sebutan STM Penerbangan, mampu merakit pesawat ringan experimental Jabiru J 430 bermesin tunggal dengan piston 6 silinder dan berkapasitas 4 tempat duduk.
Perakitan dilakukan di halaman sekolah mereka, yang berlokasi di Jalan Prof Sutono, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Selama melakukan perakitan, para siswa didampingi para instrukutrnya yang berasal dari maskapai penerbangan Garuda Indonesia Airways, Lion Air, TNI Angkatan Udara (AU), serta Federasi Aerosport Indonesia.
Saat ini, proses perakitan pesawat telah mencapai 95 persen dan diprediksi pada akhir Januari nanti akan rampung. Pesawat Jabiru ini memiliki panjang 8 meter dengan lebar bentang sayap mencapai 10 meter. Adapun, bobot pesawat memiliki berat sekitar 200 kilogram. Pesawat ini memiliki empat tempat duduk dan diklaim mampu terbang hingga Pulau Bali dan Malaysia.
Kepala Bidang Pendidikan SMK Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Rita Aryani mengatakan, perakitan pesawat ini membutuhkan waktu kurang lebih tiga bulan. Saat ini, prosesnya sudah berlangsung dua bulan. Pada akhir Januati nanti, pesawat ini diprediksi akan selesai dan diluncurkan pada bulan Februari 2012.
Para pelajar yang merakit pesawat ini adalah siswa kelas dua dan kelas tiga dari jurusan Air Frame dan Power Plant. Sejauh ini, SMKN 29 ini merupakan satu-satunya sekolah di Jakarta yang berhasil merakit pesawat.
”Perakitan pesawat ini dibagi dalam beberapa tim dan dibutuhkan waktu sekitar 3 bulan untuk merakitnya. Seluruh komponen pesawat ini didatangkan dari Australia dengan biaya ditanggung yang Direktorat Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” ujar Rita Aryani, seperti dikutipberitajakarta.com, Kamis (5/1/2012).
Rita menyebutkan, saat ini SMKN 29 telah menandatangani MoU dengan Garuda Indonesia Airways dan Lion Air. Setelah lulus, para siswanya yang memenuhi persyaratan dapat langsung diterima bekerja di dua maskapan penerbangan tersebut. Nantinya, mereka dapat bekerja sebagai tenaga maintenancehingga pilot.
“Tentu kami berharap, para siswa tidak hanya mendapatkan ilmu di sekolah, tetapi dapat mempraktekkan ilmunya dan berguna bagi masyarakat,” ujar Rita.

Motor Buatan Yogyakarta

Sepeda motor merek MAK yang merupakan sepeda motor produksi pabrikan motor asal Sleman, Yogyakarta PT Mega Andalan Motor Industri siap dipasarkan, Senin (9/1/2012), di Distributor pusat motor MAK di Jalan Solo, Yogyakarta. Sejak pertengahan tahun 2010 hingga akhir 2011, 675 unit motor MAK telah terjual. Rencananya, tahun 2012 ini akan diproduksi 12.000 unit motor (KOMPAS/ALOYSIUSBUDI KURNIAWAN)
Barangkali belum banyak orang yang mengetahui bahwa di Yogyakarta telah berkembang sebuah pabrikan motor dalam negeri bernama Mega Andalan Kalasan atau MAK.
Sejak pertengahan tahun 2010 hingga akhir 2011, sudah 675 motor MAK terjual. Harga motor buatan anak bangsa inipun terjangkau dan jauh lebih murah dibandingkan dengan motor-motor buatan Jepang.
General Manajer PT Mami FO Perdana (distributor MAK) Hilman Rama Pratama mengungkapkan, MAK mulai dirintis sejak tahun 2005, dimulai dengan pembuatan rangka bodi dan baru mulai diproduksi resmi tahun 2010.
“Sekitar 98 persen komponen motor ini buatan dalam negeri. Hanya mesinnya saja yang masih diimpor dari China,” ucapnya, Senin (9/1/2012), di Yogyakarta.
Tahun 2013, pabrikan MAK berencana merakit sendiri mesin motor bebek 125 CC dan 100 CC ini. Tahun ini, ditargetkan 12.000 motor MAK bisa diproduksi.
Harga motor MAK per unit jauh di bawah harga motor pabrikan Jepang. Sebagai contoh, harga motor bebek 125 CC buatan Jepang mencapai Rp 16 juta per unit, sedangkan harga motor MAK 125 CC hanya Rp 9,9 juta per unit atau selisih lebih dari Rp 6 juta.
Sumber: KOMPAS

Indonesia Bisa Produksi Pesawat Terbang Sejak 1940-an

Indonesia sejak 1940-an Indonesia telah mampu memproduksi pesawat secara mandiri. Baik komponen maupun desain dibuat di dalam negeri.
Dudi Sudibyo, pengamat penerbangan menyontohkan dibuatnya Pesawat RI-X pada 1948. Pesawat tersebut dibuat dengan mesin yang sudah bermotor 350 CC mesin Harley. Sebelumnya 1946 ada pesawat layang yang bernama Zogling, desain diambil dari Jerman, namun dirakit di Indonesia.
“Kemudian ada M-219 yang 100% buatan Indonesia. Pesawat seperti ini yang harus diperbanyak karena mampu terbang ke daerah terpencil. Semoga ke depannya kita bisa memproduksi sendiri hingga ke komponennya,” tutupnya. (OL-11)
Sumber: Media Indonesia

Mantan Tukang Cuci, Raih Sukses di AS

Hujan emas di negeri orang, tak seenak hujan batu di negeri sendiri. Itulah yang dirasakan Rudi Suparto, pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, yang punya usaha dan tinggal di Las Vegas, Amerika Serikat. Rudi adalah pemilik Wok Express, restoran cepat saji, yang terletak di jalan utama kawasan kasino, Las Vegas.
Gemerlapnya Las Vegas ternyata tak menyurutkan kerinduan Rudi untuk kembali ke Indonesia. “Ternyata lebih enak hidup di sana,” katanya, belum lama ini.
Bagi Rudi hidup di AS bukan hal mudah. Saat menginjak di negara itu pada 2005, mantan sales manajer ini tak bisa berbahasa Inggris. Akibatnya ia hanya bekerja sebagai tukang cuci piring. “Sedih sekali,” katanya.
Namun, kondisi seperti itu tak membuat Rudi sedih. Hal itu justru dijadikan pelajaran. Hasilnya ia tahu cara memasak dan seluk beluk restoran.
Ibarat kacang tak lupa kulitnya, selama di AS Rudi membantu sesama imigran. Semua karyawannya orang Indonesia, hanya kokinya warga Cina. Rudi berencana menghabiskan masa tuanya di Indonesia. Karena itu dia selalu berbahasa Indonesia dengan anak-anaknya, supaya bahasa ibunya tetap terjaga.(IAN)
Sumber: Liputan6

Mobil indonesia

Awal tahun 2012 ini tampaknya akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia dalam hal kreasi teknologi. Betapa tidak, awal tahun ini ramai dibicarakan tentang yang namanya mobil Esemka yang diproduksi oleh mobil Kiat Esemka bersama siswa SMK. Bahkan Walikota Solo Joko Widodo dan Wakil Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo menjadikan mobil SUV produksi Kiat Esemka menjadi mobil dinas, menggantikan mobil dinasnya Toyota Camry.

Produk mobil anak SMK sebenarnya mentertawakan kita. yang rakitan mobil Esemka itu sepertinya menjadi tamparan bagi bangsa Indonesia, lembaga riset di Indonesia yang dibiayai triliunan rupiah dan juga dunia kampus yang belum mampu mendorong kemandirian industri otomotif dalam negeri. Anak SMK saja dengan modal kecil mampu merakit mobil seperti itu, kata Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Komaruddin Hidayat. Seperti dikutip Kompas.com, Rabu (4/1).